Belajar Empaty dan Prososial
Pada suatu masa, kala itu aku mempertanyakan mengapa aku mengerti orang lain, tetapi mereka tidak mengerti aku?, Kenapa aku sering memberi dan tidak ada balasan bahkan sekedar perlakuan baik?, Kenapa aku selalu kalah dan orang lain yang mendapatkan kemenangan serta tepuk tangan itu? pertanyaan itu terus menghantui fikiranku hingga membantu pun terasa sulit untuk dilakukan. Lalu aku menemukan jawaban dari semua itu, pertemuan dengan orang-orang hebat itu membuka fikiranku mengenai berbagi dan penerimaan.
Ternyata aku menuntut diriku menjadi hebat, tuntutan itu membuatku lupa menjadi bermanfaat. kehebatan tidak akan bisa diukur dari riuh tepuk tangan orang lain, ketika tepuk tangan itu selesai aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya namun berbeda jika aku mampu bermanfaat untuk sekitar, tepuk tangan tidak akan menyilaukanku karena kebahagiaan yang aku dapatkan dari melihat senyum tulus mereka yang mengajarkanku mengenai kehidupan. Dari situ aku berfikir ternyata aku tidak akan pernah kalah seutuhnya dalam perjalanan kehidupan, bisa jadi dari hal-hal kecil yang terus dilakukan tanpa meminta balasan adalah ladang kemenanganku.
Kekuatan terbesar manusia adalah mampu memahami orang-orang disekitarnya, dengan itu kita mampu menjadi bagian penting dalam setiap sendi kehidupan. empati kata yang tepat untuk menggambarkan betapa mahadahsyatnya manusia dalam membagi kosarasa yang dimiliki, dengannya ia mampu membentuk pola fikir yang unik akibatnya ia bergerak menjadi pelaku kehidupan yang mengagungkan.
Selain itu aku juga belajar mengenai jadilah yang terbaik dimanapun kita berada, menjadi terbaik tidak selalu menjadi nomor 1 namun bagaimana kita mampu memberikan hal yang terbaik dari dirimu untuk lingkungan sekitarmu. Bisa dibilang menjadi versi terbaikmu adalah kemenanganmu seutuhnya, sehingga tidak akan ada penilain pasti yang harus kamu kejar untuk menjadi yang terbaik.
Jika kalian bertanya siapakah yang pantas menerima sorak sorai pujian itu? maka aku akan menjawab ia yang tidak pernah berhenti menjadi versi terbaik dirinya sendiri, ia yang tak takut untuk mewarnai jutaan mimpi di bumi dalam bentuk apapun, maka teruslah berbuat baik tanpa balasan karena kita tidak akan pernah tau hadiah apa yang sudah dipersiapkan semesta untuk diri kita sendiri.
Tanpa sadar dari semua pembelajaran itu ada saja hal kecil yang akhirnya membuat aku kagum pada jiwa yang melekat pada setiap raga manusia, ia mampu memaknai setiap kepingan kejadian yang menghidupkannya, mereka mampu bermanfaat dan bersenyawa dengan semesta. kekagumanku ini menjadi langkah awal untuk menemukan makna bahagia dalam setiap perjalananku, menemukan kembali jiwa yang telah usang dalam memandang metafora kehidupan agar aku tidak kehilangan diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar