Mencari Makna (3)
Siapa sangka diamnya seseorang mengandung banyak hal, gejolak dalam angan yang tak mampu tersampaikan. luka itu membuatnya tak mampu menyampaikan segalanya, kekalutan dalam diri mampu ia simpan rapat hingga tak ada celah untuk mengadu lara, ia tau kata yang keluar dari peraduannya memiliki magis tertentu dan menyihir siapapun yang mendengarnya.
Perjalanan panjang menikmati luka menjadikannya sebagai seorang yang rumpang, raganya tegar menerpa angin laut namun siapa sangka hatinya hancur menahan segala kalut. Ia tau bahwa dunia bukan tempat bersantai, dunia terlalu keras untuk membiarkannya menjadi pecundang, ia yang berjalan membawa luka dalam diri terus bertanya siapa gerangan yang akan mengobati luka yang takkasat mata, siapa gerangan yang mengetahui luka tersebut hingga ia sadar diujung sana hanya dirinya yang merasakan dan mengobati lukanya, ia tersadar bahwa orang lain tidak akan pernah mampu mengobati luka yang mungkin ia sendiri tidak tau luka itu berada dimana.
Siapa sangka luka itu terus membekas dan membungkus tubuhnya, luka itu menggoyak batinnya, luka itu menutupi sisi terang dari dirinya, luka itu menghancurkannya. Ia yang terus berjalan membawa luka menjadi lupa rasanya berbagi pilu, ia lupa rasanya menjadi bahagia, ia lupa jikalau dirinya sudah jauh dari permukaan, ia lupa telah tenggelam dalam juram kelam, ia lupa kalau ia telah membakar dirinya untuk menerangi sekitarnya, ia lupa bahwa ia adalah gelas bening yang pecah oleh siraman air panas, pilu membiru menggema dalam batinnya.
wahai tuan dan puan, ia bertanya bagaimana mungkin menyatukan pecahan gelas yang sudah berkeping? ia lupa bahwa gelas pecah selalu memiliki pilihan, membiarkan pecahannya melukai orang lain atau menyatukan kembali pecahan gelas itu dengan sentuhan seni sehingga menjadikannya gelas yang bermotif indah, menjadikannya berfungsi kembali sebagai wadah yang cantik, ia lupa bahwa kata berhenti hanya diperuntukkan untuk dia yang tidak akan kembali.
wahai tuan dan puan, bukannya hidup itu sebuah pilihan? kita akan memilih dengan apa hidup ini kita habiskan bukan? kita pula yang memilih menjadi pecahan gelas atau menjadi wadah yang bermotif itu?. nona tak berkawan menentukan dengan apa ia melihat gelas itu, semoga ia bijak dalam menentukan pilihan, namun rasanya semua pilihan adalah sebuah perjuangan untuk titik akhir yang telah diharapkan. Pilihlah dan jangan berhenti sampai disini.
Komentar
Posting Komentar