Mencari Makna (2)

 Suatu hari ketika aku memberanikan diri untuk berbicara dan menemukan ia yang tak pernah terdengar, suara lirihnya merintih untuk ditemukan, ia tertatih mencari dirinya dalam diam, sunyi senyap menghantuinya, keras kepala dan ego menjadi temannya.

Kondisi itu memang bisa saja terjadi kepada siapapun, kita pernah dan tentunya sering berada dalam posisi itu. lalu apakah yang sebenarnya terjadi? perlahan coba kita mulai perjalanan ini mencari diri yang telah hilang. berawal ketika seorang teman tiba-tiba saja membahas beberapa hal yang mungkin membuat tidak nyaman namun menyadarkan saya bahwa ada yang salah dalam diri saya, saya yang mungkin merasa baik namun terdapat banyak luka dalam diri, saya yang terbiasa mendengarkan namun ternyata butuh di dengarkan, saya yang selalu berpura-pura menjadi seseorang yang ceria, berperilaku jika hidup saya berjalan sempurna, tingkahlaku yang gembira, saya yang selalu menyelam dan berusaha menyelamatkan orang lain yang tenggelam tanpa sadar membuat diri semakin jauh dari permukaan.

Saya yang terlihat tegar agar orang lain tidak sungkan untuk membagi ketakutan, terlihat kuat menyebunyikan segala penat tersadar bahwa sebenarnya saya sendiri kebingungan untuk menyimpan segalanya senidiri, hingga saya memberanikan diri belajar untuk merasakan emosi apa yang muncul dan tidak menghakiminya. sebagian dari kita mungkin akan menyangkal emosi negatif yang muncul dalam diri hingga emosi itu meluap dan menyakitimu, apa yang dipendam lama kelamaan juga akan keluar sama halnya dengan air yang ditampung lama kelamaan juga akan meluap dan membanjiri sekitar dalam bentuk air dengan volume besar sehingga mampu merusak sekitarnya. begitu juga manusia ketika emosi negatif itu muncul seharusnya mampu kita keluarkan secara perlahan dan berdamai dengannya.

setiap saat saya berusaha untuk menganalisis pola perilaku saya, inner child yang terluka dalam diri dan keluar menjadi perilaku maladaptif yang memberikan dampak untuk lingkungan sekitar masih coba saya terima. saya tidak bisa mengatakan ini adalah hal yang mudah, dengan susah payah tentunya kita berusaha berdamai dengannya agar cukup sampai disini saja kita membawa apa yang seharusnya tertinggal di masa lalu, apa yang mungkin tidak akan pernah bisa kita ulang namun kamu bisa memperbaiki kamu yang sekarang, menyatukan kembali pecahan gelas yang telah rusak dan menjadikannya wadah yang bermanfaat.

Komentar

Postingan Populer